Ritus Pager Gunung Selo Bonang Hyang Argopuro
Cultural Heritage

Ritus Pager Gunung Selo Bonang Hyang Argopuro

March 27, 2026 4 min read
CMS Profile
Published on March 27, 2026
Last updated: Mar 27, 2026
Ritus Pager Gunung Selo Bonang Hyang Argopuro

Ritus Pager Gunung Selo Bonang Hyang Argopuro

Ritus Pager Gunung Selo Bonang adalah laku budaya sakral yang dilaksanakan pada Senin Pahing (Neptu 13) sebagai upaya kolektif memagari Gunung Argopuro melalui kesadaran spiritual, ritus, dan harmoni manusia dengan lanskap.

Warisan Budaya Hidup dalam Siklus Waktu Sakral Gunung

 

Waktu sebagai Lanskap Tak Kasat Mata

 

Di kawasan Gunung Argopuro, lanskap tidak hanya terbentuk oleh tanah, batu, dan vegetasi, tetapi juga oleh waktu—khususnya waktu yang dimaknai secara kosmologis dalam tradisi Jawa.

 

Ritus Pager Gunung Selo Bonang hadir sebagai praktik budaya yang tidak hanya berakar pada ruang, tetapi juga pada siklus waktu sakral, yaitu Hari Pager Gunung yang jatuh pada:

 

Senin Pahing (Neptu 13), di bulan Besar ( Idhul Adha ). Hari tersebut  diapit oleh: Minggu Legi (Neptu 10), Selasa Pon (Neptu 10)

 

Konfigurasi ini membentuk satu poros keseimbangan kosmik, di mana Senin Pahing menjadi titik tengah yang diyakini sebagai saat paling tepat untuk melakukan laku spiritual dalam “memagari” gunung.

 

Makna Kosmologis Hari Pager Gunung

 

Dalam sistem penanggalan Jawa, kombinasi hari dan pasaran bukan sekadar penanda waktu, tetapi representasi energi kosmik.

 

Neptu 13 (Senin Pahing) dimaknai sebagai:

 

  • Titik keseimbangan antara kekuatan spiritual dan material
  • Momentum keterhubungan antara manusia, alam, dan leluhur
  • Ruang terbuka bagi doa dan niat kolektif untuk penjagaan alam

 

Diapit oleh dua hari bernilai Neptu 10, konfigurasi ini menciptakan struktur simbolik: 10 – 13 – 10, yang dimaknai sebagai penyangga – inti – penyangga

 

Dengan demikian, Hari Pager Gunung bukan hari biasa, melainkan poros waktu sakral di mana ritus memiliki resonansi paling kuat terhadap lanskap.

 

Ritus Pager Gunung: Memagari Gunung dalam Ruang dan Waktu

 

Dilaksanakan pada Hari Pager Gunung, ritus ini merupakan praktik kolektif untuk “memagari” gunung—tidak secara fisik, tetapi melalui:

 

  • Doa lintas tradisi
  • Persembahan hasil bumi (sesaji)
  • Prosesi berjalan dalam lanskap
  • Hening sebagai ruang kontemplasi

 

Ritus berlangsung di lanskap geo-kultural Selo Bonang sebagai satu kesatuan antara manusia dan alam.

 

Setiap elemen ritus menjadi bahasa simbolik:

 

  • Sesaji → hubungan timbal balik dengan alam
  • Air dan tanah → sumber kehidupan
  • Bunyi dan hening → komunikasi kosmologis
  • Langkah kaki dalam prosesi → peneguhan relasi manusia dengan ruang hidupnya

 

Geocultural Living Landscape: Integrasi Ruang dan Waktu

 

Pendekatan Geocultural Living Landscape dalam Ritus Pager Gunung menempatkan ritus sebagai bagian dari sistem yang utuh:

 

1. Lanskap Fisik

 

Gunung, hutan, batu, dan mata air sebagai ruang hidup

 

2. Lanskap Budaya

 

Tradisi, ritus, dan pengetahuan lokal yang terus diwariskan

 

3. Lanskap Waktu

 

Siklus kalender Jawa sebagai penentu ritme kehidupan dan praktik spiritual

 

Ketiganya membentuk satu kesatuan: Ruang – Budaya – Waktu

 

Dalam konteks ini, Hari Pager Gunung menjadi pengikat antara ketiganya, memastikan bahwa praktik budaya tetap selaras dengan dinamika alam.

 

Dimensi Partisipatif: Etika dalam Kehadiran

 

Ritus Pager Gunung tidak dikonstruksi sebagai tontonan, melainkan sebagai pengalaman yang menuntut:

 

  • Kesadaran ekologis
  • Sikap rendah hati
  • Ketaatan pada tata krama budaya

 

Peserta tidak hadir sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari sistem yang dijaga bersama:

 

  • Tetua adat sebagai penjaga pengetahuan
  • Warga sebagai pelaku utama
  • Generasi muda sebagai penerus nilai
  • Signifikansi sebagai Warisan Budaya Hidup

 

Ritus Pager Gunung memiliki posisi strategis sebagai cultural heritage karena:

 

1. Pelestarian Berbasis Waktu Sakral

 

Tradisi tidak dilakukan sembarang waktu, tetapi pada momentum kosmologis yang terstruktur

 

2. Penguatan Identitas Lanskap

 

Selo Bonang ditegaskan sebagai lanskap budaya yang hidup dan berkesadaran

 

3. Konservasi Berbasis Spiritualitas

 

Gunung dijaga tidak hanya melalui regulasi, tetapi melalui laku batin kolektif

 

4. Transmisi Pengetahuan Antar Generasi

 

Nilai-nilai ekologis dan kosmologis diwariskan melalui pengalaman langsung

 

Menjaga Gunung dengan Ritme Semesta

 

Ritus Pager Gunung Selo Bonang menunjukkan bahwa menjaga alam tidak cukup dilakukan melalui pendekatan teknis semata.

 

Ia membutuhkan keselarasan dengan:

 

  • Ruang (lanskap)
  • Budaya (tradisi)
  • Waktu (kalender kosmologis)

 

Dalam ritme Senin Pahing – Neptu 13, yang diapit oleh keseimbangan Neptu 10, masyarakat Selo Bonang merawat Gunung Argopuro dengan cara yang paling mendasar:melalui kesadaran kolektif yang hidup, berulang, dan selaras dengan semesta.

Tags

#education

Related Articles

Chat with us on WhatsApp