About YANABI

About YANABI

Yayasan Nara Bestari Indonesia (YANABI) adalah lembaga independen berbasis masyarakat yang berfokus pada pengembangan bentang alam budaya melalui pendekatan Geocultural Living Landscape. Didirikan secara resmi pada tahun 2026, YANABI berangkat dari praktik panjang pengelolaan lanskap hidup di kawasan lereng tenggara Pegunungan Hyang Argopuro. Lembaga ini bekerja pada irisan antara konservasi geologi, perlindungan ekologi, pelestarian warisan sejarah, serta penguatan praktik seni dan budaya berbasis komunitas. YANABI memandang lanskap bukan semata sebagai ruang geografis, melainkan sebagai sistem pengetahuan hidup yang menyimpan memori bumi, jejak peradaban, dan dinamika kehidupan manusia yang terus berkembang.

Our Story

The Valley That Learned to Sing ; Tidak semua lanskap lahir sebagai keindahan. Sebagian harus dipulihkan—melalui waktu, ketekunan, dan keyakinan yang nyaris sunyi. Perjalanan Pendiri YANABI dimulai pada tahun 2014, dari sebuah keputusan sederhana: tinggal dan merawat. Di lereng terjal yang tandus—tanah miring, kering, dan berbatu—Hadi Poernomo dan Yuyun Handayani memulai praktik konservasi berbasis pengalaman langsung. Tidak ada cetak biru. Hanya kerja yang konsisten dan kesediaan untuk belajar dari alam itu sendiri. Tahap awal adalah kerja yang keras dan mendasar. Menahan erosi, menguatkan kontur tanah, dan menghidupkan kembali ruang yang nyaris kehilangan daya dukungnya. Pagar bambu ditanam untuk menahan lereng, pohon beringin sebagai penyangga jangka panjang, serta tanaman buah dan biji-bijian untuk mengundang kembali kehidupan satwa. Tumbuhan penutup tanah menjaga kelembaban, sementara bunga-bunga mulai memberi warna—tanda pertama bahwa lanskap mulai pulih.

Proses ini berlangsung dalam kesunyian, hampir tanpa disadari. Hingga suatu hari, sebuah peristiwa tak terduga mengubah segalanya. Di antara bebatuan yang tersingkap, ditemukan lempengan-lempengan andesit. Ketika disentuh dan diuji, batu-batu itu menghasilkan resonansi—nada-nada yang tersusun, menyerupai harmoni musik tradisional gamelan Nusantara ( Indonesia) . Sebuah fenomena geoakustik alami, di mana bumi tidak hanya membentuk lanskap, tetapi juga menyimpan suara. Sejak saat itu, lereng tersebut tidak lagi sekadar ruang konservasi. Ia menjadi ruang pengalaman—sebuah lembah di mana batu-batu bernyanyi. Temuan ini melahirkan kesadaran baru: bahwa menjaga alam bukan hanya tindakan ekologis, tetapi juga praktik kultural dan spiritual. Kesadaran tersebut kemudian diwujudkan dalam tradisi tahunan ritus Pager Gunung—sebuah bentuk syukur kepada Tuhan sekaligus komitmen kolektif untuk menjaga lereng Pegunungan Hyang Argopuro, kawasan penyangga penting bagi wilayah Jember. Ritus ini menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dan lanskap harus terus dirawat, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara batin. Seiring waktu, lanskap berubah. Burung-burung kembali, capung dan kunang-kunang mulai hadir. Ekosistem yang sempat hilang perlahan pulih—bukan sebagai proyek, tetapi sebagai kehidupan yang kembali menemukan ritmenya. Selama hampir satu dekade, ruang ini berkembang menjadi titik temu lintas disiplin. Seniman, peneliti, akademisi, hingga pengunjung dari berbagai negara datang dan mengalami langsung bagaimana lanskap lokal dapat berbicara dalam bahasa global. Namun perjalanan tidak berhenti di sana. Pasca pandemi COVID-19, pada tahun 2022, muncul pertanyaan baru yang lebih dekat dan mendesak: bagaimana jika pembelajaran dari lanskap liar ini dibawa kembali ke ruang hidup sehari-hari? Dari pertanyaan itu, langkah baru dimulai—bukan di lereng gunung, tetapi di tengah wilayah perkotaan, di pekarangan rumah sendiri. Dengan pendekatan yang sama, ruang kecil yang sebelumnya pasif dihidupkan kembali. Tanah diolah, vegetasi ditata, dan siklus kehidupan dibangun ulang. Melalui konsep residensi seniman pekarangan, ruang domestik berubah menjadi ruang produksi pengetahuan dan ekspresi—tempat di mana seni, ekologi, dan kehidupan sehari-hari bertemu secara langsung. Di tempat ini, sesuatu yang sempat hilang mulai kembali: kunang-kunang. Serangga kecil yang dahulu menjadi bagian dari malam, namun perlahan menghilang akibat perubahan lingkungan, kini kembali muncul—sebagai indikator bahwa ekosistem mikro telah pulih. Cahaya kecil yang hidup di antara tanaman, menjadi simbol bahwa bahkan di tengah kota, kehidupan dapat dibangun kembali dengan pendekatan yang tepat. Bersamaan dengan itu, pekarangan juga dikelola sebagai sumber pangan mandiri—menanam, merawat, dan memanen dalam skala mikro, sambil membuka ruang bagi praktik seni dan budaya untuk tumbuh secara organik.

Dari sinilah lahir Taman Nara Bestari—sebuah inisiatif berbasis tata kelola mikro pekarangan yang menjadi pilot project untuk edukasi geokultural di tanah kelahiran sendiri. Sebuah model yang menunjukkan bahwa konsep besar tentang lanskap, budaya, dan keberlanjutan dapat dimulai dari ruang terkecil yang kita miliki. YANABI kemudian hadir sebagai jembatan—menghubungkan seluruh proses ini menjadi satu ekosistem pemikiran dan praktik yang berkelanjutan. Dari lereng gunung hingga pekarangan rumah, dari batu yang bernyanyi hingga kunang-kunang yang kembali menyala. Ini bukan sekadar cerita tentang konservasi. Ini adalah cerita tentang bagaimana manusia belajar kembali—untuk tinggal, merawat, dan mendengarkan. Dan ketika itu terjadi, alam tidak hanya pulih. Ia menjawab—dalam bentuk suara, cahaya, dan kehidupan yang kembali.

Our Story

Vision & Mission

Arah dan prinsip dasar dalam membangun geocultural living landscape.

Our Mission

Melestarikan dan menginterpretasikan warisan geologi serta lanskap budaya secara berkelanjutan, Mendukung pelindungan dan pemaknaan kembali warisan sejarah serta cagar budaya kawasan, Mengembangkan model edukasi geokultural berbasis pengalaman langsung di lanskap hidup, Mendorong pemberdayaan masyarakat melalui praktik budaya, ekologi, dan ekonomi kreatif, Mengembangkan jaringan kolaborasi nasional dan internasional, Mewujudkan tata kelola lembaga yang profesional, transparan, dan akuntabel

Our Vision

Menjadi pusat pengembangan bentang alam budaya berbasis masyarakat yang mengintegrasikan warisan geologi, ekologi, sejarah, dan kebudayaan dalam kerangka keberlanjutan global.

Core Values

Nilai-nilai yang menjadi fondasi dalam setiap inisiatif dan kolaborasi YANABI.

Integrity of Landscape

Menjaga keutuhan hubungan antara elemen geologi, ekologi, dan budaya dalam satu kesatuan lanskap hidup.

Community-Based

Mengutamakan peran aktif masyarakat lokal sebagai penjaga dan penggerak utama lanskap.

Sustainability

Mengembangkan praktik berkelanjutan yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Collaboration

Membangun jaringan kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara.

Knowledge & Research

Mengintegrasikan penelitian ilmiah dan pengetahuan lokal dalam setiap program.

Cultural Respect

Menghormati dan melestarikan nilai-nilai budaya sebagai bagian dari identitas lanskap.

YANABI didirikan oleh: Hadi Purnomo Dan Yuyun Handayani
100+
Community & Research Engagement

YANABI didirikan oleh: Hadi Purnomo Dan Yuyun Handayani

Yayasan Nara Bestari Indonesia (YANABI) merupakan inisiatif geokultural berbasis komunitas yang berakar pada praktik eksplorasi lanskap, konservasi, serta pengembangan ruang budaya berbasis alam. Didirikan oleh Hadi Poernomo dan Yuyun Handayani, YANABI menghadirkan visi untuk membangun keterhubungan yang utuh antara manusia, alam, dan pengetahuan. Melalui pendekatan lintas disiplin, lembaga ini mengintegrasikan dimensi ekologis, kultural, dan artistik dalam satu kerangka kerja yang berkelanjutan, berangkat dari pengalaman lapangan yang panjang dan refleksi kritis terhadap dinamika lanskap hidup di Indonesia, khususnya kawasan tapal kuda Jawa Timur. Sebagai inisiator lanskap, Hadi Poernomo membawa pengalaman mendalam dalam eksplorasi dan konseptualisasi praktik geokultural berbasis komunitas. Ia menempatkan lanskap tidak sekadar sebagai objek kajian, melainkan sebagai ruang hidup yang terus diproduksi secara sosial, ekologis, dan kultural. Pendekatan ini menekankan pentingnya konservasi berbasis pengetahuan lokal, interpretasi geoheritage, serta pengembangan narasi lanskap yang mampu menjembatani kepentingan ekologis dan kebudayaan dalam konteks global. Sementara itu, Yuyun Handayani berperan sebagai penggerak komunitas sekaligus pengelola ruang ekologi budaya Taman Nara Bestari. Ia mengembangkan integrasi antara praktik kebudayaan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat dalam lanskap hidup, menjadikan ruang ini sebagai laboratorium hidup (living laboratory). Taman Nara Bestari berfungsi sebagai titik temu antara komunitas, seniman, peneliti, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengembangkan praktik art and ecology serta membangun model pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang kontekstual. Secara kelembagaan, YANABI merupakan entitas berbadan hukum yang memiliki landasan legal formal. Lembaga ini didirikan berdasarkan Akta Pendirian oleh Notaris Rahmania Madyaputri Hardiani, SH., M.Kn dengan Nomor 01, serta telah memperoleh pengesahan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui SK Nomor AHU-0005903-AH.01.04 Tahun 2026. Selain itu, YANABI juga telah terdaftar dengan Nomor Induk Berusaha (NIB) 0303260078875, dengan kantor sekretariat berlokasi di Rumah Budaya Nara Bestari, Jalan Merpati, Lingkungan Cangkring, Kelurahan Patrang, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Indonesia. Dalam positioning kelembagaan, YANABI mengembangkan model living landscape yang mengintegrasikan konservasi, produksi pengetahuan, dan praktik artistik dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Pendekatan ini menempatkan YANABI dalam lanskap praktik global yang berfokus pada community-based conservation, cultural landscape management, art and ecology practices, serta geoheritage interpretation. Dengan fondasi praktik lapangan yang kuat dan jejaring kolaborasi lintas disiplin, YANABI berupaya menjadi referensi strategis dalam pengembangan bentang alam budaya, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Selo Bonang Conservation

Pelestarian situs geoakustik sebagai bagian dari geoheritage kawasan.

Taman Nara Bestari

Pengembangan taman ekokultural (ruang ekologi dan budaya ) termasuk konservasi kunang-kunang.

Global Collaboration

Kolaborasi dengan peneliti, seniman, dan institusi dalam negeri dan internasional.

Chat with us on WhatsApp