Ritus Pager Gunung Selo Bonang dalam Perspektif Cultural Landscape
Kosmologi Argopuro dan Jejak Dewi Rengganis
Dalam kajian cultural landscape, lanskap dipahami bukan sekadar bentang alam fisik, tetapi sebagai “teks hidup” yang menyimpan jejak interaksi panjang antara manusia, alam, dan sistem kepercayaan. Di wilayah Gunung Argopuro, lanskap tidak hanya membentuk ekologi pegunungan, tetapi juga merekam sejarah peradaban, mitologi, dan praktik spiritual masyarakat yang terus hidup hingga hari ini.
Salah satu manifestasi paling nyata dari relasi tersebut adalah Ritus Pager Gunung Selo Bonang, sebuah praktik budaya yang tidak hanya mengakar pada ruang, tetapi juga pada ingatan kolektif dan kosmologi lokal yang terhubung dengan figur legendaris Dewi Rengganis.
Argopuro dan Memori Peradaban Hyang
Dalam literatur sejarah dan tradisi lisan Jawa Timur, kawasan Argopuro kerap dikaitkan dengan jejak peradaban kuno yang memiliki hubungan dengan narasi kerajaan dan pertapaan. Gunung ini dipandang sebagai ruang liminal—perbatasan antara dunia manusia dan dunia spiritual.
Sosok Dewi Rengganis hadir sebagai figur sentral dalam kosmologi ini. Ia tidak hanya dimaknai sebagai tokoh mitologis, tetapi sebagai representasi:
- Kesuburan dan penjaga alam
- Kekuatan spiritual perempuan dalam lanskap
- Simbol harmoni antara kekuasaan, alam, dan kebijaksanaan
Dalam konteks cultural landscape, figur ini berfungsi sebagai cultural anchor—penanda yang mengikat narasi manusia dengan lanskap secara simbolik dan historis.
Ritus Pager Gunung sebagai Praktik Lanskap Budaya
Ritus Pager Gunung tidak dapat dipisahkan dari lanskap Argopuro sebagai ruang hidup yang sarat makna. Dalam perspektif cultural landscape, ritus ini merupakan bentuk praktik performatif yang:
- Menghidupkan kembali memori peradaban
- Mengaktifkan relasi kosmologis manusia–alam
- Menjaga keberlanjutan lanskap secara simbolik dan nyata
Dilaksanakan pada Hari Pager Gunung (Senin Pahing, Neptu 13 di bulan Besar), ritus ini menjadi titik temu antara:
- Lanskap fisik (gunung, batu, hutan)
- Lanskap budaya (tradisi, sesaji, prosesi)
- Lanskap mitologis (narasi Dewi Rengganis)
Dengan demikian, ritus ini bukan sekadar tradisi, melainkan mekanisme untuk “membaca” dan sekaligus “menulis ulang” lanskap sebagai ruang peradaban.
Kosmologi: Gunung sebagai Ibu, Manusia sebagai Perawat
Dalam praktik Ritus Pager Gunung, gunung dimaknai sebagai entitas hidup—sering dipersonifikasikan sebagai “ibu penjaga”. Perspektif ini sejalan dengan kosmologi Jawa yang menempatkan alam sebagai bagian dari sistem relasional, bukan objek eksploitasi.
Narasi Dewi Rengganis memperkuat struktur kosmologis ini:
- Gunung sebagai ruang spiritual perempuan (feminin sakral)
- Lanskap sebagai tempat transformasi batin
- Manusia sebagai penjaga, bukan penguasa
Ritus kemudian menjadi medium untuk merawat hubungan ini melalui:
- Persembahan hasil bumi
- Doa lintas tradisi
- Hening sebagai ruang komunikasi batin
Jejak Material dan Imaterial dalam Lanskap
Pendekatan cultural landscape menekankan keterkaitan antara elemen material dan imaterial. Di Selo Bonang dan kawasan Argopuro, hal ini terlihat melalui:
Material :
- Struktur batu dan teras lanskap
- Jalur prosesi tradisional
- Titik-titik sakral (mata air, batu, ruang hening)
Imaterial :
- Ritus dan praktik spiritual
- Pengetahuan lokal tentang waktu (neptu)
- Narasi Dewi Rengganis dan kosmologi gunung
Keduanya membentuk satu kesatuan yang tidak terpisahkan, menjadikan lanskap sebagai arsip hidup peradaban.
Diskusi: Cultural Landscape sebagai Strategi Pelestarian
Ritus Pager Gunung menunjukkan bahwa pelestarian lanskap tidak selalu harus berbasis pendekatan teknokratik. Sebaliknya, praktik budaya dapat menjadi instrumen efektif dalam menjaga keberlanjutan.
Dalam konteks ini, Ritus Pager Gunung berfungsi sebagai:
- Sistem etika ekologis berbasis budaya
- Media transmisi pengetahuan lintas generasi
Penguat identitas lanskap berbasis sejarah dan mitologi
Model ini sejalan dengan pendekatan global dalam pelestarian cultural landscape yang menekankan pentingnya keterlibatan komunitas dan praktik hidup.
Lanskap sebagai Warisan yang Dihidupkan
Ritus Pager Gunung Selo Bonang memperlihatkan bahwa lanskap bukan sekadar ruang geografis, melainkan ruang peradaban yang terus dihidupkan melalui ritus, narasi, dan kesadaran kolektif.
Dalam bayang-bayang Gunung Argopuro dan jejak Dewi Rengganis, masyarakat Selo Bonang merawat hubungan yang telah terjalin selama generasi—antara manusia, alam, dan makna yang melampaui waktu.
Ritus ini menegaskan satu hal mendasar: bahwa peradaban tidak hanya dibangun, tetapi juga dirawat—melalui lanskap yang dihidupi.
Ritus Pager Gunung Selo Bonang menegaskan bahwa Gunung Argopuro adalah lanskap budaya hidup yang dirawat melalui ritus sakral, kosmologi waktu, dan memori peradaban yang terhubung dengan Dewi Rengganis.