Ritus Pager Gunung Selo Bonang dalam Perspektif Cultural Landscape
Cultural Heritage

Ritus Pager Gunung Selo Bonang dalam Perspektif Cultural Landscape

March 28, 2026 4 min read
CMS Profile
Published on March 28, 2026
Last updated: Mar 28, 2026
Ritus Pager Gunung Selo Bonang dalam Perspektif Cultural Landscape

Ritus Pager Gunung Selo Bonang dalam Perspektif Cultural Landscape

Ritus Pager Gunung Selo Bonang menyingkap Gunung Argopuro sebagai lanskap peradaban hidup—di mana kosmologi, ingatan kolektif, dan jejak Dewi Rengganis terus dirawat melalui praktik sakral yang menghubungkan manusia dengan alam melampaui waktu.

Kosmologi Argopuro dan Jejak Dewi Rengganis

 

Dalam kajian cultural landscape, lanskap dipahami bukan sekadar bentang alam fisik, tetapi sebagai “teks hidup” yang menyimpan jejak interaksi panjang antara manusia, alam, dan sistem kepercayaan. Di wilayah Gunung Argopuro, lanskap tidak hanya membentuk ekologi pegunungan, tetapi juga merekam sejarah peradaban, mitologi, dan praktik spiritual masyarakat yang terus hidup hingga hari ini.

 

Salah satu manifestasi paling nyata dari relasi tersebut adalah Ritus Pager Gunung Selo Bonang, sebuah praktik budaya yang tidak hanya mengakar pada ruang, tetapi juga pada ingatan kolektif dan kosmologi lokal yang terhubung dengan figur legendaris Dewi Rengganis.

 

Argopuro dan Memori Peradaban Hyang 

 

Dalam literatur sejarah dan tradisi lisan Jawa Timur, kawasan Argopuro kerap dikaitkan dengan jejak peradaban kuno yang memiliki hubungan dengan narasi kerajaan dan pertapaan. Gunung ini dipandang sebagai ruang liminal—perbatasan antara dunia manusia dan dunia spiritual.

 

Sosok Dewi Rengganis hadir sebagai figur sentral dalam kosmologi ini. Ia tidak hanya dimaknai sebagai tokoh mitologis, tetapi sebagai representasi:

 

  • Kesuburan dan penjaga alam
  • Kekuatan spiritual perempuan dalam lanskap
  • Simbol harmoni antara kekuasaan, alam, dan kebijaksanaan

 

Dalam konteks cultural landscape, figur ini berfungsi sebagai cultural anchor—penanda yang mengikat narasi manusia dengan lanskap secara simbolik dan historis.

 

Ritus Pager Gunung sebagai Praktik Lanskap Budaya

 

Ritus Pager Gunung tidak dapat dipisahkan dari lanskap Argopuro sebagai ruang hidup yang sarat makna. Dalam perspektif cultural landscape, ritus ini merupakan bentuk praktik performatif yang:

 

  • Menghidupkan kembali memori peradaban
  • Mengaktifkan relasi kosmologis manusia–alam
  • Menjaga keberlanjutan lanskap secara simbolik dan nyata

 

Dilaksanakan pada Hari Pager Gunung (Senin Pahing, Neptu 13 di bulan Besar), ritus ini menjadi titik temu antara:

 

  • Lanskap fisik (gunung, batu, hutan)
  • Lanskap budaya (tradisi, sesaji, prosesi)
  • Lanskap mitologis (narasi Dewi Rengganis)

 

Dengan demikian, ritus ini bukan sekadar tradisi, melainkan mekanisme untuk “membaca” dan sekaligus “menulis ulang” lanskap sebagai ruang peradaban.

 

Kosmologi: Gunung sebagai Ibu, Manusia sebagai Perawat

 

Dalam praktik Ritus Pager Gunung, gunung dimaknai sebagai entitas hidup—sering dipersonifikasikan sebagai “ibu penjaga”. Perspektif ini sejalan dengan kosmologi Jawa yang menempatkan alam sebagai bagian dari sistem relasional, bukan objek eksploitasi.

 

Narasi Dewi Rengganis memperkuat struktur kosmologis ini:

 

  • Gunung sebagai ruang spiritual perempuan (feminin sakral)
  • Lanskap sebagai tempat transformasi batin
  • Manusia sebagai penjaga, bukan penguasa

 

Ritus kemudian menjadi medium untuk merawat hubungan ini melalui:

 

  • Persembahan hasil bumi
  • Doa lintas tradisi
  • Hening sebagai ruang komunikasi batin

 

Jejak Material dan Imaterial dalam Lanskap

 

Pendekatan cultural landscape menekankan keterkaitan antara elemen material dan imaterial. Di Selo Bonang dan kawasan Argopuro, hal ini terlihat melalui:

 

Material :

  • Struktur batu dan teras lanskap
  • Jalur prosesi tradisional
  • Titik-titik sakral (mata air, batu, ruang hening)

 

Imaterial :

 

  • Ritus dan praktik spiritual
  • Pengetahuan lokal tentang waktu (neptu)
  • Narasi Dewi Rengganis dan kosmologi gunung

 

Keduanya membentuk satu kesatuan yang tidak terpisahkan, menjadikan lanskap sebagai arsip hidup peradaban.

 

Diskusi: Cultural Landscape sebagai Strategi Pelestarian

 

Ritus Pager Gunung menunjukkan bahwa pelestarian lanskap tidak selalu harus berbasis pendekatan teknokratik. Sebaliknya, praktik budaya dapat menjadi instrumen efektif dalam menjaga keberlanjutan.

 

Dalam konteks ini, Ritus Pager Gunung berfungsi sebagai:

 

  • Sistem etika ekologis berbasis budaya
  • Media transmisi pengetahuan lintas generasi

 

Penguat identitas lanskap berbasis sejarah dan mitologi

 

Model ini sejalan dengan pendekatan global dalam pelestarian cultural landscape yang menekankan pentingnya keterlibatan komunitas dan praktik hidup.

 

 

Lanskap sebagai Warisan yang Dihidupkan

 

Ritus Pager Gunung Selo Bonang memperlihatkan bahwa lanskap bukan sekadar ruang geografis, melainkan ruang peradaban yang terus dihidupkan melalui ritus, narasi, dan kesadaran kolektif.

 

Dalam bayang-bayang Gunung Argopuro dan jejak Dewi Rengganis, masyarakat Selo Bonang merawat hubungan yang telah terjalin selama generasi—antara manusia, alam, dan makna yang melampaui waktu.

 

Ritus ini menegaskan satu hal mendasar: bahwa peradaban tidak hanya dibangun, tetapi juga dirawat—melalui lanskap yang dihidupi.

 

Ritus Pager Gunung Selo Bonang menegaskan bahwa Gunung Argopuro adalah lanskap budaya hidup yang dirawat melalui ritus sakral, kosmologi waktu, dan memori peradaban yang terhubung dengan Dewi Rengganis.

Tags

#education

Related Articles

Chat with us on WhatsApp