Pilot Ruang Belajar Geocultural: Praktik Kebudayaan Lokal sebagai Sistem Pemulihan Ekologi dan Lanskap Hidup
Di tengah tantangan krisis iklim, degradasi lahan, dan melemahnya praktik pengetahuan lokal, kebutuhan akan model pembelajaran berbasis pengalaman nyata menjadi semakin mendesak. Pilot ruang belajar geocultural yang dikembangkan oleh Yayasan Nara Bestari Indonesia merupakan jawaban atas kebutuhan tersebut—berangkat dari praktik panjang di Selo Bonang yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.
Inisiatif ini tidak lahir dari pendekatan teoritis semata, melainkan dari proses pendampingan langsung oleh pendiri Yayasan Nara Bestari sejak tahun 2014, yang berperan sebagai pelaku utama dalam mengorkestrasi praktik kolektif masyarakat. Bersama kelompok warga Dusun Sumber Candik, Desa Panduman, Kabupaten Jember, proses ini berkembang menjadi model pengelolaan lanskap yang mengintegrasikan kebudayaan, ekologi, dan ekspresi ruang.
Dari Lahan Kritis ke Model Percontohan
Satu dekade lalu, salah satu titik di salah satu kawasan ini merupakan lahan kritis dengan karakter:
- lereng labil dan rawan longsor,
- minim vegetasi penutup,
- serta tingkat erosi tinggi akibat curah hujan tropis.
Melalui praktik berbasis kearifan lokal dan pendampingan berkelanjutan, lanskap ini ditransformasi secara bertahap menjadi ruang yang stabil, hijau, dan produktif. Kini, kawasan tersebut tidak hanya pulih secara ekologis, tetapi juga menjadi ruang yang diapresiasi oleh masyarakat luas, termasuk pengunjung mancanegara. Transformasi ini menjadi fondasi utama dalam menetapkan Selo Bonang sebagai pilot (model percontohan) ruang belajar geocultural.
Inovasi Teknik Lokal: Rekayasa Lanskap Berbasis Andesit
Salah satu kekuatan utama model ini terletak pada teknik yang dikembangkan masyarakat dalam merespons kondisi lahan.
1. Sistem Susunan Batu “Interlocking Puzzle”
Batuan andesit lokal disusun menyerupai puzzle, dengan prinsip:
- saling mengunci (interlocking),
- distribusi beban merata,
- serta adaptif terhadap pergerakan tanah.
Teknik ini berfungsi sebagai penahan alami lereng tanpa penggunaan beton atau semen sekaligus menjaga porositas tanah agar air tetap dapat meresap.
2. Penguatan Kontur Lahan Rawan Longsor
Susunan batu membentuk struktur penahan seperti kontruksi punden berundak, dan sekaligus berfungsi untuk :
- memperlambat aliran air permukaan,
- mengurangi tekanan pada lereng,
- serta meningkatkan stabilitas tanah secara keseluruhan.
Pendekatan ini secara prinsip sejalan dengan teknik dry stone retaining system, namun berkembang dari intuisi dan pengalaman masyarakat.
Integrasi Vegetasi: Kebudayaan sebagai Bioengineering
Pendekatan struktural diperkuat dengan penanaman vegetasi yang dipilih berdasarkan pengalaman lokal:
- Ficus (Beringin) → pengikat tanah alami dengan akar kuat dan dalam
- Bambu → penahan erosi dengan akar serabut rapat
- Pohon buah & tanaman bunga → memperkaya biodiversitas dan nilai ekonomi
Kombinasi ini membentuk sistem stabilisasi berbasis bioengineering, di mana lanskap dikelola sebagai sistem hidup yang saling terhubung.
Validasi 1 Dekade: Bukti Ketahanan Lanskap
Selama lebih dari sepuluh tahun implementasi:
- tidak terjadi erosi signifikan meskipun intensitas hujan tinggi,
- kontur lahan semakin kokoh dan stabil,
- kapasitas resapan air meningkat,
- serta ekosistem pulih, ditandai dengan hadirnya burung dan serangga capung, kupu kupu dan kunang-kunang.
Hasil ini menjadi bukti empiris bahwa praktik masyarakat memiliki efektivitas tinggi dan daya tahan jangka panjang.
Lanskap sebagai Ekspresi Budaya
Keunikan Selo Bonang tidak berhenti pada fungsi ekologis. Penyusunan batu berkembang menjadi ekspresi artistik yang membentuk ruang dengan karakter khas—menghadirkan nilai estetika, resonansi akustik, dan identitas kultural. Dari sinilah lahir metafora “lembah batu bernyanyi”, di mana lanskap tidak hanya berfungsi, tetapi juga bermakna. Dalam konteks ini, lanskap menjadi:
- medium ekspresi budaya,
- arsip hidup pengetahuan lokal,
- serta ruang interaksi antara manusia dan alam.
Ruang Belajar Geocultural: Replikasi sebagai Sistem
Sebagai pilot, ruang belajar geocultural dirancang untuk mereplikasi proses, bukan sekadar bentuk. Program ini dijalankan melalui skema padat karya, dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama.
Ruang ini berfungsi sebagai:
- laboratorium hidup (living lab)
- ruang transfer pengetahuan berbasis praktik
- platform pembelajaran lintas disiplin (ekologi–budaya–ruang)
Peserta akan belajar langsung:
- membaca karakter lanskap,
- menerapkan teknik susunan batu interlocking,
- mengintegrasikan vegetasi konservatif,
- serta membangun ruang berbasis ekspresi budaya.
Dampak Strategis Pilot Program
Ekologis :
- Restorasi lahan kritis
- Penguatan siklus hidrologi
- Peningkatan keanekaragaman hayati
Sosial :
- Transfer keterampilan berbasis praktik
- Penguatan kapasitas masyarakat lokal
- Revitalisasi gotong royong
Ekonomi :
- Penciptaan lapangan kerja (padat karya)
- Pengembangan ekowisata berbasis lanskap
- Sumber ekonomi baru berbasis ruang
Kultural :
- Pelestarian pengetahuan lokal sebagai sistem hidup
- Pembentukan identitas geocultural
- Penguatan kebudayaan sebagai solusi ekologis
Dari Praktik Lokal ke Model Global
Pengalaman di Selo Bonang menegaskan bahwa kebudayaan memiliki kapasitas sebagai sistem rekayasa lanskap yang efektif dan berkelanjutan. Dengan pendampingan intensif oleh pendiri Yayasan Nara Bestari selama satu dekade, praktik masyarakat berkembang menjadi model yang teruji secara empiris.
Sebagai pilot ruang belajar geocultural, inisiatif ini menawarkan pendekatan baru:
bahwa pemulihan ekologi tidak harus selalu dimulai dari teknologi tinggi, tetapi dapat berakar dari pengetahuan lokal yang dipraktikkan, dirawat, dan diwariskan.
Ketika kebudayaan dijalankan sebagai metode, lanskap tidak hanya pulih—ia menjadi sumber pengetahuan, identitas, dan masa depan.